PKC PMII Lampung dan Cabang Se-Lampung Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Pematang Pasir: Implementasi Tri Hablum dalam Aksi Nyata Lingkungan

JurnalKota.net – Lampung Selatan, Minggu 17 Mei 2026 – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Lampung bersama seluruh Pengurus Cabang PMII se-Lampung menggelar aksi lingkungan bertajuk _“Shodaqoh Oksigen: Tanam Mangrove untuk Kehidupan”_ di pesisir Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.

Kegiatan ini melibatkan lebih dari 200 kader PMII dari 8 cabang se-Lampung dan dipimpin langsung oleh Ketua PKC PMII Lampung, *M. Yusuf Kurniawan*. Aksi ini merupakan wujud komitmen organisasi dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan ekologi dalam kerja-kerja kerakyatan.

1. Latar Belakang dan Urgensi Kegiatan
Desa Pematang Pasir dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu wilayah pesisir Lampung Selatan yang mengalami abrasi dan degradasi ekosistem mangrove dalam 5 tahun terakhir. Hilangnya tutupan mangrove berdampak langsung pada meningkatnya intrusi air laut, berkurangnya hasil tangkapan nelayan, dan kerentanan permukiman warga terhadap gelombang pasang.

Menjawab persoalan tersebut, PKC PMII Lampung menginisiasi penanaman 5.000 bibit mangrove sebagai bentuk _shodaqoh oksigen_ bagi masyarakat dan lingkungan. Pemilihan mangrove didasarkan pada fungsi ekologisnya yang ganda: menyerap karbon, menahan abrasi, dan menjadi habitat biota laut yang menopang ekonomi pesisir.

2. Kolaborasi Lintas Elemen
Keberhasilan kegiatan tidak lepas dari kolaborasi yang dibangun sejak tahap perencanaan. Hadir dalam kegiatan:
– *Alumni PMII Lampung* yang memberikan dukungan turun langsung menanam
– *Pemerintah Desa Pematang Pasir*, dipimpin oleh Kepala Desa dan perangkat desa, yang memfasilitasi lokasi dan mobilisasi warga
– *Masyarakat Desa Pematang Pasir*, terutama kelompok nelayan dan ibu-ibu pesisir
– *Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung* yang menyediakan bibit mangrove dan memberikan pendampingan teknis penanaman

Ketua Pelaksana Kegiatan, *M. Munif Jazuli*, menekankan pentingnya kerja kolektif ini.

“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada seremoni. Sejak awal kami libatkan desa dan dinas agar ada tanggung jawab bersama dalam perawatan pasca tanam. Ini kerja kader, alumni, pemerintah, dan warga. Tanpa itu, 5.000 bibit ini tidak akan bertahan,” ujarnya di sela kegiatan.
3. Kerangka Nilai: Habluminannas, Habluminalalam, Habluminallah
Kegiatan ini diusung dengan tema *“Habluminannas, Habluminalalam, Habluminallah”* sebagai kerangka ideologis aksi kader PMII Lampung:

*Habluminannas – Hubungan dengan Sesama Manusia*
Gotong royong lintas elemen menunjukkan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa dijalankan sendiri. PMII hadir sebagai jembatan yang menyatukan kader, alumni, pemerintah, dan masyarakat dalam satu tujuan: menjaga ruang hidup bersama.

*Habluminalalam – Hubungan dengan Alam*
Penanaman mangrove adalah bentuk konkret tanggung jawab khalifah fil ardh. Kader PMII menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

*Habluminallah – Hubungan dengan Allah SWT*
Merawat ciptaan-Nya adalah ibadah sosial. Shodaqoh oksigen yang dilakukan diharapkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama mangrove tumbuh dan memberi manfaat.

4. Dampak dan Rencana Keberlanjutan
Sebanyak *5.000 bibit mangrove jenis Rhizophora dan Avicennia* ditanam di area seluas ±2 hektar di pesisir Desa Pematang Pasir. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, satu pohon mangrove dewasa mampu menyerap 10-12 kg CO₂ per tahun. Dengan demikian, potensi penyerapan karbon dari kegiatan ini mencapai ±55-60 ton CO₂ per tahun setelah 5-7 tahun pertumbuhan.

Untuk memastikan keberlanjutan, PKC PMII Lampung telah menyepakati 3 langkah tindak lanjut bersama Pemerintah Desa Pematang Pasir dan DLH Provinsi Lampung:
1. *Monitoring bulanan* terhadap pertumbuhan bibit selama 12 bulan pertama
2. *Pembentukan Kelompok Kader Peduli Lingkungan* di tingkat desa yang diisi kader PMII cabang Lampung Selatan dan warga setempat
3. *Edukasi lingkungan* bagi siswa-siswi SD dan SMP di Desa Pematang Pasir agar kesadaran ekologi tumbuh sejak dini

Ketua PKC PMII Lampung, *M. Yusuf Kurniawan*, menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk kritik konstruktif terhadap krisis iklim yang tidak cukup dijawab dengan wacana.
“Kader PMII harus hadir di ruang-ruang persoalan rakyat. Krisis iklim adalah persoalan nyata di pesisir Lampung Selatan. Maka kami jawab dengan aksi nyata di lapangan. Ini amanah organisasi dan amanah agama,” tegasnya.

5. Penutup
Kegiatan _Shodaqoh Oksigen_ ini diharapkan menjadi model kolaborasi pentahelix antara mahasiswa, alumni, pemerintah, masyarakat, dan akademisi dalam menjawab tantangan lingkungan di wilayah pesisir. PKC PMII Lampung berkomitmen untuk melanjutkan program serupa di wilayah pesisir Lampung lainnya pada tahun 2026.*

ORADO Bandar Lampung Gelar FunGame Domino Antar Klub, 192 Peserta Ramaikan Turnamen Persahabatan

Bandar Lampung — Federasi Olahraga Domino Nasional (ORADO) Kota Bandar Lampung menggelar kegiatan FunGame ORADO Antar…

PKC PMII Lampung dan Cabang Se-Lampung Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Pematang Pasir: Implementasi Tri Hablum dalam Aksi Nyata Lingkungan

Lampung Selatan – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Lampung bersama seluruh Pengurus Cabang…

Resmikan Koperasi Merah Putih di Belalau, Wabup Lampung Barat: Jangan Sekadar Jadi Bangunan, Hidupkan Ekonomi Desa

Lampung Barat — Wakil Bupati Lampung Barat, Drs. Mad Hasnurin meresmikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)…

PMII Lampung Turun ke Pesisir! Istigosah, Bagi Sembako hingga Tanam Mangrove Demi Selamatkan Alam dan Warga Sebesi

Lampung Selatan – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Lampung menggelar Movement Gathering…

Viral Anggaran Laundry DPRD Lampung Selatan, Sekwan Tegaskan untuk Perawatan Fasilitas Kedewanan

Lamsel – DPRD Lampung Selatan melalui Kepala Bagian Umum selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) memberikan…

Sekretariat DPRD Lampung Selatan Klarifikasi Anggaran Laundry Rp6,5 Juta per Bulan, Sebut Sesuai Prosedur dan E-Katalog

Lampung Selatan — Sekretariat DPRD Lampung Selatan memberikan penjelasan terkait informasi yang berkembang di sejumlah media…

Kontroversi LCC MPR Memanas! SMAN 1 Pontianak Tolak Final Ulang, Pilih Hormati Hasil dan Dukung Sambas

SMAN 1 Pontianak resmi menyatakan tidak akan mengikuti final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar…

Babinsa Koramil 410-04/TKT Perketat Pengamanan Ibadah Kenaikan Isa Almasih di Bandar Lampung, 220 Jemaat Beribadah Khidmat dan Aman

Bandar Lampung – Personel Babinsa Koramil 410-04/TKT bersama aparat terkait dan unsur masyarakat melaksanakan pengamanan ketat…

Jalan Provinsi Sidomulyo–Candipuro Segera Diperbaiki, DPRD Lampung Selatan Soroti Truk Over Tonase

LAMPUNG SELATAN — Kabar baik bagi masyarakat pengguna jalan penghubung Sidomulyo–Candipuro. Pemerintah Provinsi Lampung disebut segera…

Residivis Curanmor Beraksi Lagi! Curi HP di Area Pemancingan, Pelaku Dibekuk Tekab 308 Kurang dari 6 Jam

Lampung Tengah – Team Tekab 308 Presisi Sat Reskrim Polres Lampung Tengah berhasil mengungkap kasus pencurian…

“Spesialis Dinamo” Akhirnya Tumbang! Buronan Setahun Dibekuk Polisi Saat Tengah Malam di Tulang Bawang

Tulang Bawang – Aksi pelarian panjang TA (21), buronan kasus pencurian dengan pemberatan (Curat), akhirnya terhenti…

Eva Dwiana Dorong KPRI Ragom Gawi Naik Kelas! Koperasi ASN Bandar Lampung Diminta Gandeng UMKM dan Go Digital

Bandar Lampung – Wali Kota Eva Dwiana menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPRI Ragom Gawi di…

Ketua DPRD Metro, Terima Keluhan Warga Kondisi Drainase Yang Tidak Mampu Menampung Debit Air Saat Hujan Deras

Metro | Ketua DPRD Kota Metro Ria Hartini, menyerap aspirasi masyarakat dalam agenda reses konstituen, dimana…

Soroti Kemacetan di Jalan Kamboja, Tokoh Masyarakat Desak BRI Segera Tepati Janji Usai RDP dengan DPRD

JurnalKota.net – BANDAR LAMPUNG, (FN) – Benson Wertha, tokoh masyarakat Kecamatan Bandar Lampung, menyoroti lambannya respons pihak Bank Rakyat Indonesia dalam menangani persoalan kemacetan yang kerap terjadi di ruas Jalan Kamboja, tepat di sekitar kantor wilayah bank tersebut.

Menurut Benson, persoalan kemacetan di kawasan itu bukan hal baru. Bahkan, beberapa waktu lalu telah digelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama anggota DPRD Kota Bandar Lampung dan organisasi perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung, guna mencari solusi atas kondisi lalu lintas yang dinilai semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

Dalam forum tersebut, kata Benson, pihak BRI menyampaikan komitmen untuk segera mencari jalan keluar, salah satunya dengan menyiapkan lahan parkir tambahan agar kendaraan nasabah tidak memadati badan jalan dan memicu kemacetan.

“Janji itu sudah disampaikan dalam RDP. Namun sampai hari ini masyarakat belum melihat langkah nyata. Mana janji dan tindakan mereka? Kok lamban sekali,” ujar Benson, yang juga berprofesi sebagai pengacara dan berdomisili di sekitar Jalan Kamboja, saat dimintai keterangan, Rabu (13/5/2026).

Benson menilai, sebagai salah satu bank milik negara terbesar dan tertua di Indonesia, BRI semestinya mampu menyelesaikan persoalan teknis seperti penyediaan lahan parkir.

Ia menegaskan, keberadaan kantor besar di pusat kota tidak seharusnya justru menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

“Ini kantor wilayah, institusi besar, bank tertua. Masa persoalan seperti ini tidak bisa dipecahkan? Jangan sampai masyarakat terus dirugikan karena kemacetan yang terjadi hampir setiap hari,” tegasnya.

Warga sekitar, lanjut Benson, berharap pihak BRI segera menepati komitmen yang telah disampaikan di hadapan DPRD dan pemerintah kota.

Mereka juga meminta para wakil rakyat tidak berhenti pada forum rapat semata, tetapi terus melakukan pengawasan terhadap realisasi kesepakatan yang telah dibuat.

Masyarakat khawatir, apabila persoalan tersebut terus dibiarkan tanpa penanganan serius, bukan hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga berpotensi menimbulkan insiden di jalan raya.

“Kami berharap DPRD terus memantau dan mendesak BRI agar segera merealisasikan solusi yang dijanjikan. Jangan sampai muncul hal-hal yang tidak diinginkan akibat kemacetan yang terus berulang,” ujar Marli salah seorang warga setempat.

Kemacetan di Jalan Kamboja selama ini disebut dipicu oleh kendaraan nasabah dan aktivitas operasional di sekitar kantor wilayah BRI yang menggunakan badan jalan sebagai area parkir sementara, terutama pada jam kerja dan jam sibuk.

Kondisi itu kerap dikeluhkan pengguna jalan karena mempersempit akses lalu lintas di salah satu ruas strategis di pusat Kota Bandar Lampung. (*)