
PADANG — Potensi banjir berulang di sejumlah wilayah Kota Padang menjadi perhatian Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Sumatera. Sedimentasi, menyempitnya kapasitas sungai, hingga belum optimalnya sistem pengendalian banjir dinilai menjadi faktor yang perlu segera ditangani secara terpadu.
Dalam Monev yang berlangsung Selasa (11/8/2026), Satgas PRR menemukan sejumlah lokasi yang kembali terdampak meski sebelumnya telah mendapatkan penanganan pascabencana. Kondisi ini menunjukkan bahwa rehabilitasi perlu dibarengi dengan langkah mitigasi untuk mencegah kerusakan dan banjir kembali terjadi.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di Sungai Guo. Jebolnya tanggul kembali memicu genangan yang berdampak pada sekitar 30 hektare lahan sawah. Selain kerusakan tanggul, sedimentasi dan material batu yang menumpuk turut mengurangi kapasitas aliran sungai.

Karena itu, penanganan Sungai Guo dinilai tidak cukup dilakukan hanya pada titik tanggul yang rusak. Pengendalian perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari kawasan hulu hingga hilir agar kapasitas aliran dan fungsi sungai dapat kembali optimal.
Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Sungai Batang Maransi, Batang Belimbing, dan Batang Kuranji. Sedimentasi serta keterbatasan kapasitas saluran meningkatkan risiko luapan, terutama ketika hujan turun dengan intensitas dan durasi tinggi.
Satgas PRR juga mencatat sejumlah rencana penanganan masih menghadapi berbagai kendala. Di antaranya persoalan pembebasan lahan, keterbatasan anggaran, serta perlunya kepastian kebijakan terkait pelaksanaan pengerukan sedimentasi sungai.
Satgas PRR mendorong pemerintah daerah bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memperkuat pengendalian sistem sungai secara terpadu dari hulu hingga hilir. Koordinasi lintas sektor juga dinilai penting agar upaya pengendalian banjir dapat berjalan lebih efektif.
Monev menegaskan bahwa rehabilitasi pascabencana tidak boleh hanya berorientasi pada mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana. Penanganan harus diarahkan untuk mengurangi risiko sehingga kerusakan dan banjir yang sama tidak terus berulang.