SPBU 24.341.105 Metro Kibang Dikuasai Pelangsir Solar

Metro Kibang | Stasiun pengisian bahan bakar umum ( SPBU ) 24.341.105 Kecamatan Metro Kibang Kabupaten Lampung Timur, diduga dikuasai pelangsir. Hal ini dibuktikan dengan susahnya untuk mendapatkan bahan bakar minyak ( BBM ) jenis solar, bagi masyarakat yang memiliki kendaraan berbahan bakar solar.

Walaupun sudah melakukan antrian, sudah pasti tidak akan kebagian bbm solar, pasalnya jalur antrian sudah dikuasai oleh para pelangsir sejak awal. Bahkan, para pelangsir akan langsung memarkirkan kendaraannya kembali usai mereka mengosongkan tanki bbm nya.

Para pelangsir akan memarkirkan atau meninggalkan kendaraannya disepanjang jalan diseputaran kantor camat Metro Kibang, pada saat SPBU buka mereka bisa langsung mendapat giliran yang paling depan, bukan hanya satu atau dua kendaraan puluhan kendaraan dari berbagai jenis baik truk maupun minibus akan selalu begitu setiap harinya, sehingga masyarakat umum tidak akan pernah kebagian antrian.

Benar adanya, saat awak media melakukan investigasi ke SPBU Metro Kibang dan berpura pura mengisi BBM jenis solar, lebih dari 40 kendaraan pelangsir sudah menempati barisan paling depan. Tiba saatnya kendaraan awak media ingin mengisi dan tinggal tiga kendaraan lagi didepan, BBM solar sudah habis.

Saat itulah awak media berkesempatan mengobrol dengan salah seorang pelangsir yang menggunakan kendaraan roda dua jenis Suzuki Tunder yang tankinya sudah dimodifikasi sehingga mampu mengisi BBM pertalite lebih banyak. Dari orang tersebutlah awak media mendapat informasi bahwa sistem pelangsiran di SPBU 24.341.105 Kecamatan Metro Kibang sudah terorganisir dan dibentuk kelompok. Hal ini sudah berjalan sejak lama dan sudah bertahun tahun.

“Pelangsir disini sudah ada groupnya om, kalau yang langsir solar itu dikordinir oleh mas Rodi, itu yang rumahnya jualan obat obatan sebelah Polsek Metro Kibang. Kalau kami pelangsir pertalite atau motor dikordinir oleh om Marwan yang rumahnya dekat jembatan kembar Desa Margototo. Jadi setiap pelangsir itu dikenai setoran om, satu minggu sekali untuk motor Rp.100.000, untuk mobil pelangsir solar itu 200.000 perkendaraan. Terus uang cor untuk motor Rp.2.000, untuk mobil Rp.10.000 untuk sekali putaran atau sekali pengisian,” ungkapnya, Jum’at ( 14/8/2026 )

Lebih lanjut Ia mengatakan, untuk uang cor langsung diterima oleh petugas SPBU sedangkan uang mingguan mereka setor kepada ketua kelompok mereka masing – masing. Saat ditanya uang tersebut kegunaanya untuk apa? Ia mengaku bahwa uang tersebut untuk pelicin atau uang tutup mata bagi para penegak hukum diwilayah tersebut, agar kegiatan ilegal mereka aman dan tidak ditangkap.

“ Kata pengurus, uang tersebut setelah terkumpul dibagi bagi om. Untuk Polsek Rp.1.000.000, untuk Koramil Rp.500.000, untuk oknum anggota Polres juga ada, untuk LSM dan lainnya,” jelasnya.

Hal tersebut juga diaminkan oleh warga sekitar yang saat itu hendak mengisi BBM kendaraan roda dua miliknya. Menurut HN, Ia mengetahui hal tersebut karena sering mencuri dengar dari para pelangsir itu sendiri maupun warga lainya.

“Ini sudah bukan rahasia umum lagi mas, masyarakat sudah pada tahu, cuma masyarakat sungkan untuk bertindak karena para pelangsir adalah tetangga sendiri, bahkan pelangsir dari Melaris Lampung Timur sampai ngontrak rumah disini, kalau warga sini ya itu si Hendri mobilnya ada 5 untuk langsir solar semua, pak Iwan truknya 5 juga untuk langsir, pak guru Narmin truknya 2 dan mobil Pajero, pak Mail ustadz juga ikut langsir, Rodi, Marwan, Pak Mail Pensiunan tentara, pak Kudarto TNI, lek Amat, Paulus masih banyak lagi, belum lagi yang dari luar daerah dari kota Metro, Melaris dan Tanjung Bintang mereka juga ikut langsir disini,”ujarnya

Lebih lanjut HN mengatakan, pihak aparat pastinya akan diam saja karena mereka sudah mendapat jatah bulanan.

“Gimana aparat mau bertindak mas, mereka sudah dapat jatah, selain itu oknum aparatnya juga ikut melangsir. Pernah digrebek dari Polres beberapa kali tapi nyatanya sampi sekarang masih lanjut langsirnya. Karena semua sudah kebagian jatahnya masing – masing termasuk Aji pengawas SPBUnya juga dapat bagian. Kita Lapor ke Polda juga percuma tidak ada efek jeranya. Karna mungkin pihak Polda juga sudah dapet setoran, mungkin kalau lapornya ke Kapolri atau ke Pertamina Pusat mungkin baru ditindak tegas,” bebernya.

Lebih lanjut HN menjelaskan, kegiatan para pelangsir ini selain merugikan masyarakat juga mengganggu ketertiban umum. Pasalnya, saat para pelangsir memarkirkan kendaraan memakan badan jalan disekeliling kantor Camat Metro Kibang.

“Mas buktikan saja jam 9 malam mereka sudah memarkirkan kendaraanya diseputaran kantor Camat dan Lapangan. Mereka memarkirkan kendaraan truknya dikanan dan kiri jalan, ini memngganggu sekali. Pernah warga mau lewat membawa pakan ternak oleh para pelangsir disetop tidak boleh lewat karena takut menyenggol mobilnya, inikan keterlaluan, kelakukan para pelangsir itu sangat arogan sekali seolah olah jalan dan SPBU itu milik mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut HN mengatakan, SPBU Metro Kibang benar – benar sudah dikuasai mafia migas. Dan Dia berharap ada tindakan tegas dari pihak penegak hukum untuk efek jera.

“Yang lebih parah, itu dibelakang SPBU mas, setiap hari ada dua Truk yang mengambil solar dari belakang SPBU. Dibelakang itu dibuatkan pipa dan kran jadi sangat mudah untuk mencuri solar dari situ. Kalau dari depan tidak terlihat karena tertutup tembok tapi kalau kita manjat atau dari samping SPBU ya kelihatan aktifitas mereka, itu ribuan liter mas yang diambil mereka padahal itu minyak subsidi jatah untuk rakyat. Warga tidak berani bertindak karena kabarnya itu dibekingi oleh TNI,” tandasnya. | (Tim7).

Tinggalkan Balasan