WAY KANAN – Polres Way Kanan berhasil mengungkap kasus pencurian kabel listrik milik PT PLN (Persero)…
Penulis: BJe
Mahasiswa UKMF LWDC FH Juara I Kompetisi Surat Dakwaan Lawphoria UMY
Lampung – Delegasi mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Lampung (Unila) yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa…
Universitas Lampung Berduka, Dosen Senior Ilmu Komunikasi Dr. Nanang Trenggono Wafat
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Universitas Lampung (Unila) kembali diliputi suasana duka. Salah satu putra terbaiknya,…
Unila–Polda Lampung Kolaborasi Atasi Konflik Agraria dan Perkuat Ketahanan Pangan
Lampung – Universitas Lampung (Unila) mempertegas komitmennya sebagai problem solver bagi permasalahan di Provinsi Lampung. Hal…
Polda Lampung Kawal Ploting Lahan Sengketa di Tulang Bawang, Pastikan Proses Berjalan Aman dan Transparan
TULANG BAWANG – Komitmen Polri dalam menjamin kepastian hukum serta menjaga stabilitas keamanan kembali ditunjukkan melalui…
Unila Sosialisasikan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis KKN Berdampak
Lampung – Universitas Lampung (Unila) menggelar sosialisasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis KKN berdampak, di ruang…
Rektor Dorong Akreditasi dan Percepatan Studi di Pisah Sambut FT
Lampung – Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, DEA, IPM, ASEAN Eng., menegaskan…
Lampung Selatan Raih Apresiasi Gubernur atas Penyelesaian Tindak Lanjut Pengawasan 100 Persen
KALIANDA — Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik, transparan,…
Berbasis Kepedulian Lingkungan, Desa Suak Raih Juara Favorit Desa Wisata Nusantara 2025
LAMSEL, Kalianda – Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional…
Perdagangan Karbon Indonesia Jalan di Tempat, Potensi Besar Belum Tergarap
BANDAR LAMPUNG – Perdagangan karbon digadang-gadang sebagai salah satu pilar utama ekonomi hijau Indonesia. Dengan kekayaan hutan tropis, lahan gambut, dan mangrove yang menyimpan cadangan karbon raksasa, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengambil peran strategis di pasar karbon global. Namun hingga kini, perdagangan karbon nasional terkesan jalan di tempat, belum mampu mengonversi potensi tersebut menjadi manfaat nyata.
Kemandekan ini tidak lepas dari persoalan tata kelola. Regulasi yang belum sepenuhnya jelas dan konsisten membuat pelaku usaha serta investor ragu melangkah. Proses perizinan yang panjang, mekanisme perdagangan yang rumit, serta standar pengukuran dan verifikasi yang belum seragam memperlambat laju pasar karbon.
Selain itu, ekosistem pendukung perdagangan karbon masih lemah. Infrastruktur pasar, lembaga verifikasi, hingga kapasitas sumber daya manusia belum berkembang seiring ambisi besar yang dicanangkan. Akibatnya, transaksi yang terjadi masih terbatas dan belum menciptakan efek ekonomi yang signifikan.
Dari sisi sosial, manfaat perdagangan karbon juga belum dirasakan secara luas. Masyarakat lokal dan adat, sebagai penjaga hutan dan ekosistem, sering kali belum menjadi penerima manfaat utama. Tanpa insentif ekonomi yang jelas, upaya konservasi sulit bersaing dengan aktivitas ekonomi jangka pendek yang merusak lingkungan.
Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan momentum penting dalam transisi menuju ekonomi hijau. Potensi besar akan terus menjadi catatan di atas kertas, sementara negara lain melaju lebih cepat memanfaatkan peluang pasar karbon global.
Perdagangan karbon Indonesia membutuhkan terobosan nyata. Kepastian regulasi, penguatan ekosistem pasar, dan keadilan distribusi manfaat harus segera diwujudkan. Tanpa langkah konkret, perdagangan karbon akan terus jalan di tempat, dan potensi besar yang dimiliki Indonesia tetap tak tergarap.