“Kabur Aja Dulu” Ramai Dibahas, Pemuda Lampung Justru Cari Jalan untuk Negeri

“Kabur Aja Dulu” Ramai Dibahas, Pemuda Lampung Justru Cari Jalan untuk Negeri

BANDAR LAMPUNG — Fenomena media sosial “kabur aja dulu” yang mencerminkan kekecewaan sebagian anak muda terhadap kondisi bangsa menjadi pemantik diskusi dalam forum “Muda untuk Negeri” di Kafe Rumah Kawan 2, Kedaton, Bandar Lampung, Jumat malam (28/8/2026).

Alih-alih saling menyalahkan, para pemuda yang hadir memilih membicarakan persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda: bagaimana memaknai kembali rasa cinta kepada Indonesia dan mewujudkannya melalui kontribusi nyata.

Forum yang digelar Komunitas Arunika itu mempertemukan para Ketua OSIS SMA dan SMK se-Kota Bandar Lampung dengan aktivis kampus, mulai dari Ketua BEM Fakultas, Ketua Himpunan Jurusan hingga Ketua UKM.

Dari “Kabur Aja Dulu” ke “Apa yang Bisa Kita Lakukan?”

Ketua Komunitas Arunika, Ilham Fadilah, mengatakan forum tersebut digelar di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus merespons kegelisahan yang dirasakan sebagian generasi muda.

Menurutnya, munculnya ungkapan “kabur aja dulu” tidak seharusnya hanya dipandang sebagai bentuk penolakan atau sikap negatif. Fenomena tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi dan ruang untuk membangun dialog antara pemuda dengan berbagai pihak.

“Banyak pemuda yang sudah kecewa terhadap pemerintah. Rasa cinta mereka terhadap Indonesia mulai pudar, sehingga sering muncul tagline seperti ‘kabur aja dulu’ dan lain-lain,” ujar Ilham.

Ia menilai kekecewaan tersebut perlu dijawab melalui ruang diskusi yang terbuka, bukan sekadar nasihat.

Komunitas Arunika ingin mendorong agar kecintaan terhadap Indonesia tidak berhenti pada slogan ataupun seremoni. Pemuda diharapkan mampu menerjemahkannya dalam bentuk gagasan, sikap, serta kontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Pemuda Diminta Tak Hanya Jadi Penonton

Pemantik diskusi, Jevri Afrizal, mengajak para pelajar dan mahasiswa untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Menurutnya, kecintaan terhadap Indonesia harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk pendidikan, organisasi, kegiatan sosial, maupun berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

“Cinta kepada Indonesia harus diwujudkan dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam UUD 1945 serta menjadikan asas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pijakan pergerakan,” kata Jevri.

Ia menegaskan generasi muda memiliki tanggung jawab dalam menentukan arah masa depan bangsa.

“Kecintaan terhadap Indonesia harus dibangun dari kesadaran bahwa pemuda memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” tegasnya.

Satukan Pelajar dan Aktivis Kampus

Ilham mengatakan forum tersebut juga dirancang sebagai ruang pertemuan antara pelajar dan mahasiswa. Kedua kelompok tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membentuk masa depan Lampung dan Indonesia.

“Ini adalah tempat berkumpulnya para pemuda dan aktivis yang memiliki kecintaan terhadap masa depan Indonesia, khususnya kecintaan terhadap masa depan Provinsi Lampung,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, peserta dapat saling bertukar gagasan sekaligus membangun jejaring dan peluang kolaborasi lintas sekolah, kampus, serta organisasi kepemudaan.

Ilham berharap Muda untuk Negeri tidak berhenti sebagai diskusi satu malam. Forum tersebut diharapkan berkembang menjadi ruang komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan bagi generasi muda di Lampung.

“Rasa cinta terhadap Indonesia tidak diukur dari seberapa sering kita mengucapkan ‘cinta Indonesia’, tetapi dari seberapa besar kita bersedia mengambil peran untuk memperbaiki keadaan,” pungkasnya.

Fenomena “kabur aja dulu” pada akhirnya diharapkan tidak hanya menjadi tren di media sosial, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi pemerintah dan generasi muda untuk memahami akar kekecewaan sekaligus mencari solusi bersama.

Tinggalkan Balasan