LAMPUNG SELATAN – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, mengikuti workshop internasional tentang pengelolaan sampah dan…
Tag: Lampung Selatan
DPRD Lamsel Gelar Rapat Paripurna Penyampaian Ranperda Tentang Pemberian Insentif dan Kebijakan Investasi.
LAMPUNG SELATAN — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung Selatan, menggelar rapat Paripurna dengan agenda penyampaian…
Dalam Rangka Siger Berbagi, Selain Silaturahmi, Riana Sari Arinal juga Kunjungi Keponakannya, Kades Way Huwi
Lampung Selatan – Masyarakat Desa Way Huwi mendapatkan kunjungan Ibu Gubernur Lampung, Riana Sari Arinal beserta Dharma Wanita, DPRD, dan BKD Provinsi Lampung dalam acara Siger Berbagai yakni dengan membagikan paket sembako kepada masyarakat Desa Way Huwi. Jumat, 5/4/24.
Kepala Desa Way Huwi, Muhammad Yani menyampaikan terima kasih kepada Ibu Gubernur beserta rombongan yang sudah menjadikan Desa Way Huwi untuk tempat berbagi.
”Saya sebagai kepala desa Way Huwi secara pribadi dan mewakili warga mengucapkan terima yang sebesar-besarnya kepada Ibu Gubernur Lampung beserta rombongan yang telah menjadikan desa ini sebagai tempat berbagi rutinan beliau,” ucapnya kepada Wartawan.
Riana Sari Arinal menyampaikan salam hangat dari Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi kepada seluruh masyarakat Lampung semoga semua dalam keadaan sehat, baik dan dalam keberkahan Allah SWT.
Beliau juga menyampaikan, bahwa acara ini adalah acara rutin yang sudah terlaksana. Dalam giatnya ke Desa Way Huwi juga sekaligus mengunjungi keponakannya. Diketahui bahwa Kades Way Huwi Muhammad Yani ini adalah keponakan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dari Way Kanan.
”Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dibulan yang mulia ini dalam rangka Siger Berbagi, yang memang kegiatan ini adalah kegiatan rutinan bagi kami. Selain itu juga kami sekaligus sialturahmi kepada keponakan kami, Muhammad Yani yang juga selaku Kepala Desa Way Huwi dan juga dari Way Kanan,” jelas Riana Sari Arinal.
Dalam kesempatan itu Riana Sari Arinal langsung menyerahkan bantuan simbolis kepada masyarakat Desa Way Huwi.
Terlihat di lokasi, masyarakat Desa Way Huwi sangat senang atas kehadiran dan kunjungan Ibu Gubernur Lampung di Desa Way Hui. Tak hanya itu, dalam kunjungannya, Ibu Gubernur Lampung beserta Ibu Sekretaris Dewan menerima buah tangan dari masyarakat setempat sebuah surat cinta untuk pemerintah, agar menengok permasalah yang sedang terjadi di Desa Way Huwi yaitu persoalan “Sengketa Lahan Tanah Lapangan dan Makam”.
DPD LSM PELITA Berikan Klarifikasi Terkait Pemberitaan di Salah Satu Media Online
JurnalKota, Lampung Selatan – Menanggapi pemberitaan di salah satu media online dengan judul “PTPN VII Menangkan Sengketa Lahan Sidosari” yang terbit pada tanggal 12 Juni 2023, DPD Lembaga Swadaya Masyarakat Pelindung Tanah Air (LSM PELITA) selaku penerima kuasa/pendamping dari ahli waris Suprayitno (alm) yang dikuasakan kepada Maskamdani, memberikan klarifikasi kepada Lampung7.com terkait pemberitaan sepihak tersebut, Kamis (15/6/2023).
Menurut Heri Apriyanto selaku Penerima Kuasa dari Maskamdani, apa yang menjadi Statement/Pernyataan dari Sekretaris PTPN VII Bambang Hartawan, dan Hakim Ketua Pengadilan Negeri Kalianda Dian Anggraini, yang di muat dan dipublikasikan di salah satu media online tersebut tidak benar.
Dimana sebelumnya diberitakan bahwa “Majelis Hakim pengadilan Negeri Kalianda yang mengadili perkara ini telah memutuskan menolak gugatan terhadap lahan HGU milik PTPN VII yang berada di Desa Sidosari, Natar, Lampung Selatan.
Dari pernyataan itu Heri Apriyanto menyatakan bahwa gugatan penggugat tidak pernah ditolak oleh Pengadilan Negeri Kalianda.
“Gugatan kami tidak pernah ditolak oleh Pengadilan Negeri Kalianda, karena proses pengadilan berjalan sebagaimana mestinya sampai adanya keputusan oleh majelis hakim yang memenangkan pihak tergugat dalam hal ini PTPN VII. Namun belum mempunyai kekuatan hukum mengikat, karena penggugat masih mengajukan untuk perkara pertama di tingkat kasasi dan gugatan kedua nomor 45/PGT.G/2022/PN.Kla mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tanjung Karang,” ujar Heri.
Terkait pernyataan Sekretaris PTPN VII Bambang Hartawan yang menyatakan “Sidang putusan kasus ini memang berlangsung pada awal Mei lalu, tetapi baru masuk ke direktori putusan Mahkamah Agung pada Kamis,8 Juni 2023.kami sengaja menunggu putusan itu dirilis di direktori putusan MA, supaya lebih valid dan tidak ada keraguan”.
Untuk itu menurut Heri Apriyanto, pernyataan Bambang Hartawan itu tidak benar, karena pada hari Kamis tanggal 8 Juni 2023 itu adalah pembacaan putusan oleh majelis hakim pengadilan negeri Kalianda yang memenangkan pihak tergugat dalam hal ini PTPN VII.
“Jadi pada hari Kamis tanggal 8 Juni 2023 itu adalah pembacaan putusan majelis hakim pengadilan negeri Kalianda yang memenangkan pihak tergugat dalam hal ini PTPN VII, bukan keputusan Mahkamah Agung (MA). Bahkan dalam pembacaan putusan tersebut tidak dihadiri oleh semua pihak terkecuali pihak penggugat,” jelas Heri.
Terhadap pernyataan Sekretaris PTPN VII Bambang Hartawan terkait pelaporan tindak Pidana Penyerobotan lahan dan pengrusakan, Heri Apriyanto menyatakan tidak merasa melakukan penyerobotan dan pengrusakan.
“Kami tidak merasa melakukan penyerobotan dan pengrusakan yang dituduhkan oleh pihak PTPN VII, karena lahan yang kami kelola adalah lahan hak milik Suprayitno (alm) atau Maskamdani yang dikuasakan kepada LSM PELITA dengan dasar surat-surat yang dimiliki oleh pemberi kuasa,” ungkap Heri.
Untuk sejarah historis tanah yang dikuasai oleh PTPN VII, berdasarkan pernyataan dari management PTPN VII tanah/lahan tersebut berasal dari Nasionalisi perkebunan milik Belanda, berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 1959.
Dalam hal ini Heri Apriyanto membantah pernyataan tersebut.
“Kalau memang HGU yang di miliki PTPN VII itu berdasarkan Nasionalisasi, kenapa ada surat pernyataan dari Manager PTPN VII Unit Repa Natar Berman Sidauruk, bahwa di tahun 1974 telah dilakukan proses pembebasan tanah dan tanam tumbuh (Ganti Rugi) melalui panitia Pemda Lampung Selatan,” tanya Heri.
Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Hakim Ketua Pengadilan Negeri Kalianda Dian Anggraini dalam pemberitaan di salah satu media online tersebut, bahwa Sertifikat HGU nomor 16 tahun 1997 dengan gambar situasi nomor 9 dan 10/1974 tertanggal 20 Maret 1974 seluas 4.984, 41 hektar merupakan aset PTPN VII Unit Repa (Rejosari Pematang Kiwah).
Dalam hal ini Heri Apriyanto mempertanyakan kenapa ada perbedaan luas lahan didalam sertifikat HGU nomor 16 tahun 1997 seluas 4.984,41 hektar, sementara lahan yang dikuasai oleh PTPN VII Unit Repa seluas 9.796,49 hektare.
“Bahkan kami mempertanyakan perbedaan luas lahan yang tertuang di dalam sertifikat HGU PTPN VII Unit Repa nomor 16 tahun 1997 seluas 4.984,41 hektar, tapi kenyataannya berdasarkan data yang kami miliki dan di ajukan oleh PTPN VII Unit Repa dalam persidangan seluas 9.796,49 hektare. Pertanyaan kami , tanah siapa yang di serobot oleh PTPN VII seluas 4.812,08 hektar berdasarkan perbedaan luas tanah yang tertulis di sertifikat HGU nomor 16 tahun 1997 dengan kenyataan luas lahan yang dikuasai oleh PTPN VII” tanya Heri.
Berdasarkan keputusan majelis hakim pengadilan negeri Kalianda yang menghukum Maskamdani dan Kawan-kawan atau pihak lain yang menguasai objek sengketa untuk menyerahkan kepada PTPN VII seketika dan tanpa syarat apapun.
Keputusan atau hukuman tersebut di tanggapi oleh DPD LSM PELITA bahwa mereka tidak akan pernah menyerahkan lahan milik Suprayitno (Alm) atau Maskamdani.
“Kami tidak akan pernah menyerahkan lahan milik Suprayitno (Alm) atau Maskamdani, walaupun sudah ada keputusan tetap atau mengikat dari pengadilan (inkrah) sebelum pihak pengadilan melakukan pengembalian tapal batas dan dapat menunjukkan atau membuktikan siapa yang memberi dan menerima konvensasi ganti rugi berdasarkan surat pernyataan nomor: Repa/G/M/2021 tanggal 21 Agustus 2021 yang di tanda tangani oleh Berman Sidauruk selaku Manager Unit,” imbuh Heri.
Heri Apriyanto juga menyayangkan atas pemberitaan yang diterbitkan oleh salah satu media online Yang terkesan berita sepihak dan disinyalir berita tersebut adalah rilis dari Humas PTPN VII.
“Disini juga kami sangat menyayangkan atas pemberitaan salah satu media online yang tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke pihak DPD LSM PELITA selaku penerima kuasa atau pendamping dari Maskamdani, disinyalir berita tersebut adalah rilis dari Humas PTPN VII.” Pungkas Heri. **
Sengketa Lahan Sidosari Tak Kunjung Usai, Majelis Hakim PN Kalianda Lakukan Sidang Lapangan
JurnalKota, Lampung Selatan – Sengketa Lahan di PTPN 7 Rejosari yang terletak di Desa Sidosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan yang di klaim milik keluarga Dullah Ahmad/Supriatno Alm dan dikuasakan pengurusan serta pengolahannya kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pelindung Tanah Air (Pelita) belum juga menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Hal itu terlihat dari dilakukannya kembali sidang lapangan yang dihadiri Majelis Hakim dari Pengadilan Negeri (PN) Kalianda, BPN Lampung Selatan, LSM Pelita, Kuasa Hukum keluarga Dullah Ahmad/Supriatno, Perwakilan PTPN 7 Rejosari, TNI dan Polres Lampung Selatan di lokasi lahan yang disengketakan di desa Sidosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, pada Selasa 9 Mei 2023.
Dalam agenda sidang lapangan tersebut, Majelis Hakim dari PN Kalianda ingin memastikan kembali kepemilikan lahan yang disengketakan dengan mengukur batas-batas yang menjadi objek sengketa.
Menurut Amrullah, SH., selaku Kuasa Hukum dari keluarga Dullah Ahmad/Supriyatno mengatakan, bahwa pihak PTPN 7 Rejosari telah mengklaim lahan milik kliennya yang berada di desa Sidosari dengan HGU No. 16 Rejosari, Kecamatan Natar.
Diketahui bahwa desa Rejosari berada di sebelah kiri jalan lintas Sumatera Kecamatan Natar, bukan di lahan milik kliennya yang berada di desa Sidosari, Kecamatan Natar.
Hal tersebut dikatakannya atas bukti dari peta milik PTPN 7 Rejosari yang dikeluarkan oleh pemerintah, ujarnya.
Selain itu ditambahkan juga oleh Misran SR., selaku Ketua LSM Pelita bahwa pihaknya hanya menuntut haknya, bukan akan mengambil milik pihak lain dengan berdasarkan surat-surat yang ada.
“Hari ini dilakukan sidang lapangan untuk memeriksa batas-batas sesuai dengan peta yang ada, berapa luas keseluruhan dari batas peta itu dan jika di luar dari itu berarti bukan milik PTPN 7,” tandasnya.
“Namun sudah dua kali sidang lapangan, satu kali pun mereka tidak mau melakukan itu (bukti data),” jelasnya lagi.
Dikatakannya juga, pihak LSM Pelita beserta Kuasa Hukum akan terus memperjuangkan lahan 150 hektar milik kliennya, namun jika ini tidak dilakukan pengecekan sesuai dengan data peta dan fakta di lapangan, pihaknya menganggap sidang tersebut tidak Fair.
Dengan selesainya sidang yang dilakukan di satu titik tersebut, Majelis Hakim PN Kalianda akan melanjutkan kembali sidang beberapa hari ke depan.
Dilain sisi, pihak PTPN 7 Rejosari dan Majelis Hakim Kalianda enggan memberikan komentar kepada beberapa awak media terkait hasil dari sidang lapangan tersebut. (red)
Rombongan Mobil Mewah Serobot Antrean di Pelabuhan Bakauheni, Ini Kisahnya
JurnalKota, Lampung – Polres Lampung Selatan buka suara terkait viral protes pemudik tidak terima antrean kendaraannya diserobot rombongan mobil mewah. Kejadian itu terjadi saat pemudik sedang menunggu masuk kapal di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin menjelaskan, kejadian tersebut telah ditangani Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) dan telah dilakukan evaluasi.
“Jadi aliran daripada kendaraan yang seharusnya dia (rombongan mobil mewah) berputar. Tapi pada saat dia berputar, memang untuk antrean itu kan belum disekat. Artinya pembatasnya belum ada. Nah hari ini sudah kita batasi,” katanya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (25/4).
“Nah dia (rombongan mobil mewah) itu nyerobot, kemudian yang di depannya itu tidak terima. Tapi kemudian sudah dinetralkan (dimediasi) kemarin,” tambah Edwin.
Dia mengatakan pemudik yang protes awalnya di urutan ke belakang. Sementara dari arah belakang rombongan mobil yang mewah itu menyerobot dengan masuk jalur bus saat berputar.
“Kami sampaikan ini memang kesalahan kami. Untuk penataannya ke depan kami perbaiki,” tegasnya.
Sementara terkait adanya sepeda motor yang mengawal rombongan mobil mewah, Edwin mengklaim, hal itu salah persepsi. Karena penggunaan sepeda motor memang dipakai untuk mobilitas anggota mengatur kendaraan.
“Itu tidak ada itu tidak ada. Salah persepsi aja. Kalau yang dikatakan segala macem, saya juga pakai motor mas kemarin. Cuma kita kan di pelabuhan ini untuk mempercepat kita pakai motor,” ujarnya.
Kemudian, Edwin menjelaskan, kalau sebelum kejadian tersebut, lima barisan ke belakang kendaraan memang belum dikasih pembatas sehingga terjadi kesalahan.
“Jadi, ketika dia masuk, nah dia bisa masuk saat tikungan truk dermaga yang kami sediakan pas masuk ke dermaga bus,” bebernya.
Bukan Rombongan
Edwin meluruskan terkait narasi rombongan mobil mewah itu tidak benar. Karena, ketujuh mobil yang menyerobot bukan dalam satu rombongan.
“Tujuh, dan dihambat tiga dikeluarin tiga kemarin gitu. Enggak, kebetulan saja. Tidak saling kenal,” katanya.
Selain itu, dia mengaku dari mobil ketujuh yang menyerobot telah ada tiga mobil yang dihadang untuk dikembalikan ke dalam barisan. Karena mendapat komplain dari aksinya menyelak antrean.
“Kan sempat dimundurin juga yang tiga itu. Karena ada komplain kita mundurin, jadi dia nyalip motong,” ujarnya.
Sebelumnya, video viral merekam seorang pemudik yang diduga protes karena tidak menerima antrean kendaraannya diserobot rombongan mobil mewah. Kejadian itu terjadi saat pemudik sedang menunggu masuk kapal di Pelabuhan Bakauheni.
Dikutip dari tayangan video channel youtube Lampung TV, seorang pemudik yang protes itu bernama Adit. Lantaran, tidak terima dirinya yang sudah mengantri tiba-tiba dipotong oleh rombongan kendaraan mewah yang dikawal.
“Mendekati masuk mobil, ada 7 mobil dikawal pakai motor tidak pakai helm masuk pak. Mobil mewah Range Rover, Alphard, Innova semuanya. Itu sudah di mobil, kapalnya sudah jalan. Kita ketinggalan pak,” ucap Adit dalam video tersebut, dikutip Selasa ( 25/4).
Pasalnya, dirinya merasa kecewa setelah menunggu lama sejak pukul 14.00 Wib, namun ketika mobil hendak masuk. Rombongan mobil mewah yang dimaksud menyerobot membuat, dirinya harus kembali mengantri sampai enam jam lamanya, sampai pukul 18.00 Wib.
Rombongan mobil itu, diungkap Adit, bukanlah pejabat. Terlihat dari plat nomor kendaraan yang berkode sipil. Dia pun meminta kepada Menteri BUMN Erick Thohir untuk memanggil kejadian yang dia alami.
“Itu bukan mobil pejabat ya. mobil pribadi, plat D, plat D, ada plat e. Mohon perhatiannya lah Bapak Erick, Bapak Presiden,” katanya. (red)