Jurnal Kota.net – Metro | Wali Kota Metro Wahdi Siradjudin secara resmi membuka “Panggung Apresiasi Pejuang Pendidikan” di Taman Merdeka Kota Metro, Minggu (1/9/2028).
Kegiatan tersebut merupakan gagasan pengurus Perempuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Metro, dimana sebagai upaya memperkuat budaya literasi di Bumi Sai Wawai sekaligus juga sebagai upaya menciptakan ruang apresiasi untuk mengedukasi masyarakat.
Dikatakan dalam sambutan Wali Kota Metro menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan tersebut, untuk menumbuhkan literasi di Kota Metro perlu dibudayakan.
“Mudah-mudahan semua pada hari Minggu ini menjadi senang dan ceria, apresiasi yang setinggi-tingginya atas kegiatan ini. Dan ini adalah suatu kegiatan yang sangat baik sekali, saya tentu menyambut baik panggung apresiasi pejuang pendidikan,” ucap Wahdi.
Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama membangun Kota Metro serta mengisi kemerdekaan dengan karya hebat.

“Ayo kita bersama bangun Kota Metro lebih ceria lagi, maju berkelanjutan. Mari kita isi kemerdekaan kita dengan karya-karya hebat kita,” pungkas Wahdi.
Dalam kesempatan itu, Ketua Perempuan PGRI Kota Metro, Atut Dwi Sartika mengatakan bahwa perempuan PGRI Kota Metro berkontribusi mengisi kemerdekaan mewujudkan Metro menuju generasi emas.
“Sebagai bagian dari anak bangsa yang menjadi bagian garda terdepan dalam menjaga idealisme, penjagaan karakter dan ikut membentuk generasi penerus bangsa, kami menciptakan ruang-ruang panggung apresiasi yang mana ini merupakan salah satu bentuk memperkuat budaya literasi di Kota Metro,” ucap Atut, saat dikonfirmasi awak media.
Menurutnya, dengan menghidupkan panggung sederhana apresiasi baca puisi, secara tidak langsung dapat mengedukasi masyarakat dengan melihat bagaimana semangat serta cita- cita yang dibawa para pemimpin yang mengurus kota ini.
“Secara tidak langsung, ini ikut mendorong geliat para warganya untuk gemar membaca dan memperluas bahan bacaan baik pengetahuan umum, keilmuan lain bahkan dunia sastra dan kepenyairan,” ujar Atut.
Wanita yang akrab disapa ibu Atut menerangkan bahwa kegiatan tersebut juga melibatkan para guru yang bergembira dengan fashion show bernuansa cinta Indonesia dan karnaval budaya, penggunaan bahan daur ulang dan kontemporer bagi murid.
“Khusus kegiatan ini juga sebagai pemanasan dalam rangka program kerja Perempuan PGRI yang akan menggelar program lanjutan. Sebelumnya pelantikan duta literasi bagi pelajar di kota Metro pada bulan bahasa yang akan datang, dan ikut serta berpartisipasi dalam persiapan pemanasan sebagai tuan rumah Gelar Karya Pendidikan se Provinsi Lampung yang akan di gelar BGP Provinsi Lampung di Kota Metro pada bulan November,” jelas Atut.

Tak hanya itu, dirinya juga membiarkan tantangan serta peluang dalam garapan event tersebut. Menurutnya, Kota Metro juga menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan statusnya sebagai kota pendidikan dan literasi.
“Tantangan utama adalah bagaimana mempertahankan kualitas pendidikan di tengah pertumbuhan jumlah penduduk dan keterbatasan anggaran. Selain itu, di era digital seperti sekarang, tantangan dalam menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda juga semakin besar karena mereka lebih cenderung menghabiskan waktu dengan gadget daripada membaca buku,” papar Atut.
Meskipun begitu, wanita yang menjabat sebagai Kepala SD Negeri 6 Metro Pusat itu mengungkap sebuah peluang untuk berkembang yang masih sangat besar. Pengembangan teknologi pendidikan dan literasi digital menjadi salah satu fokus yang bisa digarap oleh Kota Metro dalam mempertahankan dan bahkan meningkatkan posisinya sebagai kota pendidikan dan literasi.
“Keberhasilan ini tentu saja tidak lepas dari peran aktif pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan yang ada di kota ini. Termasuk di dalamnya kontribusi dan keterlibatan organisasi kemasyarakatan yang salah satu diantaranya keberadaan Peran Perempuan PGRI Kota Metro,” tambah Atut.
Guru yang juga merupakan penyair Lampung tersebut menuturkan sejarah dan latar belakang Kota Metro yang telah lama dikenal sebagai pusat pendidikan dan literasi di Lampung.
“Sejarah pendidikan di Metro bisa dilacak, sejak masa kolonial Belanda, dimana pendidikan mulai diperkenalkan kepada masyarakat pribumi. Metro tumbuh sebagai salah satu pusat penyebaran pendidikan dasar hingga menengah di Lampung, dengan berdirinya sekolah-sekolah yang diinisiasi oleh pemerintah kolonial dan misionaris,” tutur Atut.
Selain itu, menurut penyair dengan nama Adiska tersebut, Metro juga diklaim memiliki infrastruktur pendidikan yang relatif lengkap dan berkualitas. Terdapat banyak sekolah dari tingkat dasar hingga menengah yang tersebar di seluruh wilayah Kota Metro.
Dirinya juga bahkan menuturkan budaya literasi yang menjadi program pemerintah maupun lembaga di kota Metro. Salah satu program andalannya yaitu Gerakan Metro Membaca yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca di kalangan warga, khususnya anak-anak dan remaja.
Penulis Antologi Puisi berjudul Semacam Cerita Kasih itu juga menerangkan dukungan pemerintah dan masyarakat yang menjadi kunci penting dalam mengembangkan sektor pendidikan dan literasi di Bumi Sai Wawai.
“Berbagai kebijakan yang pro-pendidikan, seperti pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi dan bantuan bagi keluarga kurang mampu, telah meningkatkan akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat. Di sisi lain, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan juga sangat tinggi, yang terlihat dari antusiasme orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka,” tandas Atut. (Adv)